PPEI Gelar Webinar How To Start Export

Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan EKpsor Indonesia (PPEI) Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) Kementerian Perdagangan mengadakan webinar ke 12 tahun ini dengan tema How to Start Export. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya PPEI untuk terus memberi fasilitasi kepada para UKM untuk bisa menembus pasar internasional.

“Di tengah pandemi ini kami terus memberi fasilitasi kepada UKM untuk kemudian menjadi pemicu munculnya eksportir baru dengan cara webinar, obrolan ekspor di Youtube, dan microlearning di website kudagang,” kata Kepala Balai PPEI Heryono Hadi Prasetyo atau yang lebih akrab disapa Noly dalam sambutannya (5/11).

Heryono mengatakan webinar ini sangat dibutuhkan UKM untuk mengetahui persiapan ekspor. Hal tersebut disebabkan masih banyaknya kekurangan yang dimiliki oleh UKM dalam negeri seperti masalah kapasitas produksi, SDM, permodalan, sertifikasi, dan riset pasar.

Lebih lanjut, Kepala Balai PPEI juga memberi kiat untuk ekspor, yaitu UKM harus fokus pada produk, manfaatkan fasilitas pemerintah, dan ikuti Business Matching. Selain itu pelaku usaha juga hendaknya terus membangun jejaring bisnisnya (networking) serta berpromosi melalui marketplace.

Pemateri pertama Nursyamsu Mahyuddin menyampaikan materi mengenai persiapan dan dokumen ekspor. Ia mengatakan semua UKM bisa menjadi eksportir seperti PT, CV, koperasi maupun perseorangan.  “Langkah pertama mendaftar di OSS (One Single Submission) untuk mendapat NIB,” kata Nursyamsu.

Nursyamsu dalam sesi ini juga memaparkan tentang berbagai pihak yang terlibat dalam ekspor, transportasi ekspor, dan dokumen ekspor.

Pemateri kedua Andriza Syarifudin mengatakan eksportir cukup melakukan dua hal, yaitu menentukan produk dan mencari pembeli. Untuk menentukan produk, UKM dapat melakukan riset dengan cara melihat potensi di sekeliling pelaku usaha. Setelah itu, UKM harus mencari kode produk berupa kode HS (Harmonized System). Kode HS ini dapat digunakan untuk mencari informasi persyaratan ekspor produk. Jika sudah dilakukan semua, pelaku usaha dapat menghitung harga produk.

Tahap selanjutnya adalah melakukan riset pasar. “Tujuannya untuk memahami pembeli, mencari tahu besarnya permintaan pembeli, mencari tahu trend permintaan, mencari tahu siapa dan dimana pembeli dan mencari tahu harga,” kata Andriza