PPEI dan KBRI Washington DC Gelar Webinar “Peluang dan Tantangan Menembus Pasar Amerika Untuk Produk Makanan Minuman”

Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (BBPPEI) Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJ PEN) Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC mengadakan webinar  peluang dan tantangan menembus pasar Amerika untuk produk makanan dan minuman. Webinar ini diikuti oleh 200 peserta pelaku usaha.

Yudho Sasongko selaku Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Washington DC dalam sambutannya mengatakan Amerika Serikat (AS) memiliki potensi besar untuk produk makanan dan minuman. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah ekspor makanan dan minuman ke AS. Tercatat pada tahun 2020, jumlah ekspor makanan dan minuman sebesar USD 327,5 juta naik 10,6% dibandingkan tahun 2019 yang senilai USD 296,2 juta.

Yudho mengatakan, UKM Indonesia menghadapi 3 (tantangan) yaitu adanya keterbatasan kemampuan, akses pembiayaan dan akses pasar. Untuk mengatasinya, KBRI mendorong UKM harus melakukan 3 (tiga) hal, yaitu go modern dengan memperbaharui tampilan produk, go digital dengan masuk ke e commerce, dan go global dengan melakukan ekspor. “KBRI akan terus dukung promosi UKM,” kata Yudho.

Hari Widodo selaku Pelaksana Harian Kepala Balai Besar PPEI DJPEN Kemendag mengatakan Amerika Serikat merupakan negara tujuan utama ekspor Indonesia. Berdasar data BPS, total perdagangan total perdagangan pada tahun 2020 mencapai USD 27,2 milyar dan untuk ekspor non migas sebesar USD 18,6 Milyar. Ekspor non migas ke AS menempati urutan ke 2 ekspor Indonesia ke Dunia setelah Tiongkok. Sementara untuk neraca perdagangan dengan AS, Indonesia surplus USD 10,04 Milyar. Pada triwulan pertama 2021, ekspor non migas Indonesia ke Amerika Serikat mencapai USD 5,6 Milyar atau meningkat 15,96% dibandingkan  periode yang sama tahun 2020. “Saya yakin dengan kinerja ekspor, target Perwakilan Dagang untuk peningkatan ekspor 6,82% bisa tercapai,” kata Hari.

Hari mengatakan, tantangan utama yang dihadapi oleh pelaku usaha Indonesia khususnya UKM produk pangan olahan yang akan memasuki pasar Amerika Serikat yaitu terkait standardisasi, sertifikasi dan kualitas produk pangan. Hal ini sebenarnya tidak hanya berlaku di pasar AS, akan tetapi di beberapa negara maju juga menerapkan hal yang sama mengenai strandar dan kualitas produk pangan. Melalui webinar ini, UKM Indonesia diharapkan mengetahui peluang dan persyaratan untuk dapat masuk ke pasar AS.

Wijayanto selaku Atase Perdagangan RI di Washington DC mengatakan Indonesia menempati peringkat ke delapan impor AS untuk produk makanan olahan dan produk berbasis agro. Wijayanto mengatakan, untuk memperkuat rantai pasok UKM Indonesia, pihaknya terus berpartisipasi pada tradeshow international dengan mengikutsertakan UKM eksportir yang telah dikurasi oleh Ditjen PEN Kemendag. Selain itu pihaknya juga memberi dukungan promosi produk dengan pengiriman sampel produk dan dukungan jaringan warehouse.

Yun Takari, importir di AS mengatakan pelaku usaha harus mempelajari ketentuan US custom dan FDA, mengetahui dokumen dan regulasi yang harus dipenuhi sebelum ekspor ke Amerika. Untuk eksportir baru harus melakukan riset pasar secara menyeluruh.

Ia mengatakan, meskipun potensi pasar di AS besar namun pelaku usaha perlu mengetahui segmen pasar untuk produknya. “Pelaku usaha juga harus mengerti pricing strategy, harus dibahas dengan importir di AS. Selain itu sebisa mungkin ke AS juga untuk melihat produk dan strategi harga competitor,” kata Yun.

Sedangkan Sugi Suherman, mengatakan untuk sukses ekspor ke AS, pelaku usaha harus memahami aturan dan persyaratan memasukkan barang ke AS. Pelaku usaha juga hendaknya mencari informasi jika produknya dapat preferensi tariff ataupun kemudahan lainnya. Selain itu, pelaku usaha juga harus memberi label secara detail yakni menggunakan bahasa Inggris, dan memiliki nutrition fact.