PPEI Tandatangani MoU Kerja Sama Pelatihan Ekspor dengan Dinas Perdagangan Kota Pekalongan

PPEI Tandatangani MoU Kerja Sama Pelatihan Ekspor dengan Dinas Perdagangan Kota Pekalongan

Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (BBPPEI) Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) Kementerian Perdagangan melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pekalongan. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Kepala PPEI Heryono Hadi Prasetyo dan Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pekalongan Bambang Nurdiyatman juga disaksikan oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kasan bertempat di Gedung PPEI Jakarta pada Selasa, 26 Januari 2021.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan Kasan dalam sambutannya mengatakan kontribusi UKM terhadap ekspor Indonesia masih kecil, yakni hanya 11% dari total ekspor Indonesia. Tercatat, baru terdapat 13.177 UKM eksportir dari total UKM di Indonesia yang berjumlah jutaan.

Ia mengatakan, salah satu hambatan UKM kesulitan melakukan ekspor adalah karena adanya mindset bahwa ekspor itu ribet dan sulit. Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) memiliki Export Coaching Program (ECP). ECP merupakan program pendampingan pelaku usaha yang memiliki keinginan kuat untuk melakukan ekspor. “Pelaksanaan ECP dapat menghilangkan mindset bahwa ekspor itu ribet dan sulit,” kata Kasan.

Ia mengatakan PPEI harus lebih terkenal dan dapat dimanfatkan oleh masyarakat, terutama oleh UKM. Pada tahun 2021 ini PPEI akan melakukan pelatihan offline dan online dalam meningkatkan SDM UMK Indonesia. Untuk itu, pihaknya menyambut baik penandatanganan MoU ini dan akan terus memberi fasilitas UKM bukan hanya di Pekalongan saja tapi juga di seluruh Indonesia. Selain itu, produk yang dikembangkan juga meluas ke sektor lain, bukan hanya batik.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Pekalongan Bambang Nurdiyatman mengatakan terdapat 23.000 UMKM pengusaha batik di Pekalongan. Dari jumlah tersebut sebanyak 22 pengusaha telah melakukan ekspor meskipun secara tidak langsung dengan nilai USD 26 juta. Menurutnya, Pekalongan memiliki potensi ekspor yang besar terutama pada produk batik. “UKM batik tersebar di empat kecamatan dan 27 kelurahan. Selain itu juga didukung dengan adanya pasar grosir batik dan kampung batik,” kata Bambang.

Pihaknya berkomitmen untuk melestarikan batik dan bercita-cita supaya Pekalongan menjadi pusat batik dunia. Ia mengatakan anak-anak muda banyak yang terjun di dunia batik. Hal tersebut terlihat pada pesatnya perkembangan motif batik Pekalongan. Selain itu juga muncul berbagai diferensiasi produk seperti pada korden, taplak meja, bahkan jeans batik. Meski demikian, jumlah tenaga kerja di sektor batik susah didata karena banyaknya pekerjaan dalam proses membatik yang memerlukan tenaga kerja sendiri-sendiri.

MoU tersebut memuat rencana melakukan kerja sama pelatihan sebanyak tiga angkatan. Dengan adanya kerja sama pelatihan ini, Kepala PPEI berharap nilai ekspor Kota Pekalongan akan meningkat serta sektor lain seperti ikan asin, sarang burung walet dan lainnya akan ikut terdorong ekspornya. “Kami PPEI bersedia memberikan bantuan berupa pelatihan dan Export Coaching Program untuk mematahkan gambaran bahwa ekspor itu sulit,” kata Kepala PPEI Heryono Hadi Prasetyo yang akrab dipanggil Noly.